๐ Tentang Proyek
Proyek ini membangun sistem deteksi cyber-incivility (ketidaksopanan siber) otomatis untuk komentar media sosial berbahasa Indonesia, mencakup ujaran SARA, body shaming, cyberbullying, hoaks, dan provokasi, menggunakan model bahasa NusaBERT yang dilatih secara multi-task.
Komentar media sosial Indonesia sering mencampur bahasa (Indonesia baku, bahasa daerah, Inggris) dan memakai gaya bahasa informal, sehingga model deteksi ujaran kebencian yang dilatih pada teks formal umumnya kurang akurat. Proyek ini membangun korpus berlabel in-domain dari komentar YouTube Indonesia, dikombinasikan dengan korpus eksternal, untuk melatih model yang lebih sesuai dengan konteks lokal.
- C0-NTR (Netral): Bukan incivility, seperti sapaan, opini wajar, kritik sopan
- C1-SARA (SARA): Kebencian suku, agama, ras, antargolongan
- C2-BDY (Body Shaming): Hinaan terhadap fisik/penampilan
- C3-CBL (Cyberbullying): Serangan personal ke individu bernama
- C4-HOX (Hoaks): Klaim palsu yang ditegaskan sebagai fakta
- C5-PRV (Provokasi): Hasutan kekerasan, hinaan kolektif, ancaman
Label tambahan: Sentimen (NEG/NET/POS) dan Campur Kode (CM-ID/CM-REG/CM-ENG/CM-MIX).
Dataset menggabungkan korpus in-domain LWSEM (komentar YouTube Indonesia, label dikurasi ulang dari anotasi awal yang tidak reliabel) dengan tiga korpus eksternal sebagai penyokong kelas minoritas:
- Ibrohim & Budi (2019): korpus hate-speech Twitter Indonesia
- IDNHoaxCorpus / UMPO (2020): korpus hoaks Twitter Indonesia
- Sutoyo dkk. (2023): korpus body-shaming komentar TikTok Indonesia
Model multi-task berbagi satu encoder NusaBERT-base (~110 juta parameter) dengan tiga head klasifikasi: klaster incivility (tugas utama), sentimen, dan campur kode, dilatih dengan focal loss dan pembobotan kelas untuk menangani ketimpangan data yang ekstrem.